Catatan: Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan sudut pandang penerbit di UMBBIZHF NEWS
Peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan diterapkan pada 1 Januari 2025, yang awalnya 11% hingga 12%, menjadi kontroversi yang terus dibahas oleh publik. Kebijakan ini tentu saja memiliki pengaruh langsung pada harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat, meskipun bahan baku tertentu, seperti toko kelontong dan barang -barang tertentu, selalu dikecualikan dari kenaikan pajak.
Ini menimbulkan pertanyaan mendasar lainnya, apakah ini solusi untuk meningkatkan pendapatan pemerintah atau menjadi hadiah yang buruk dari masyarakat sebelum Tahun Baru 2025?
Hukum HPP menetapkan kenaikan bertahap dalam harga PPN, dari 10% menjadi 11% yang mulai berlaku pada 1 April 2022, kemudian paling lambat 1 Januari 2025 menjadi 12%. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan pendapatan pemerintah untuk mendukung program pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa pejabat dan politisi telah menempatkan tanggung jawab orang lain untuk kebijakan ini. Namun, harus disadari bahwa tuduhan timbal balik tidak akan memberikan solusi konstruktif untuk masalah yang dihadapi.
Sebaliknya, kerja sama produktif dan dialog antara pemerintah, DPR dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk membuat keputusan terbaik untuk ekonomi negara dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan tarif ini dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa, yang pada gilirannya juga mengurangi daya beli, terutama untuk kelompok -kelompok rendah.
Sektor bisnis, khususnya perusahaan mikro, kecil dan menengah (MPME), nantinya akan menghadapi tantangan untuk menyesuaikan harga dan mempertahankan daya saing, khususnya untuk bertahan dan berkembang. Kebijakan ini dianggap tepat karena difokuskan pada produk mewah, sementara kebutuhan dasar dan layanan dasar tunduk pada tingkat PPN yang lebih rendah atau bahkan dibebaskan.
Kebijakan ini bertujuan untuk meringankan beban orang -orang yang berpenghasilan rendah, sehingga daya beli mereka dipertahankan. Pendekatan yang adil seperti ini dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam perlakuan ketidakpastian global. Pemerintah harus memastikan bahwa pendapatan pemerintah peningkatan PPN sebenarnya dialokasikan untuk sektor-sektor yang memiliki pengaruh langsung pada kesejahteraan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan dan pengembangan infrastruktur, khususnya untuk program makanan bergizi yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo Sui-Bianto.
Dengan cara ini, masyarakat dapat melihat bahwa pengorbanan mereka dalam pembayaran pajak benar -benar berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup. Bentuk insentif ini dapat mengambil bentuk alternatif pajak lainnya, subsidi atau bantuan teknis untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis mereka.
Dukungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa MPM masih dapat bekerja dengan baik, terlepas dari kenaikan tingkat PPN, karena sektor ini adalah tulang punggung ekonomi Indonesia dan pemasok ketenagakerjaan yang paling penting. Dengan menggabungkan solusi yang berbeda ini, peningkatan PPN dapat dilakukan lebih inklusif, mendukung pertumbuhan ekonomi negara tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat yang lebih luas. Penerapan harga selektif untuk produk mewah, transparansi dalam penggunaan dana pajak, insentif MPME, serta memperkuat sektor sosial, adalah solusi paling penting untuk memastikan dampak dari peningkatan ini dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi. Karena itu membentang dan kebingungan masyarakat, karena kita baru saja terbagi karena pemilihan presiden dan pemilihan. Dengan kebijakan yang baik dan kerja sama antara pemerintah, parlemen dan pemangku kepentingan, kebijakan ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara masyarakat baik meningkat berkelanjutan. (Miq / miq)